Sensitivitas dan spesifisitas pendekatan sindrom dan jumlah sel PMN pada infeksi Chlamydia trachomatis genital wanita dibandingkan dengan hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)

Danang T. Wahyudi, Erdina HDP Pusponegoro, Sjaiful Fahmi Daili

Abstract


Genital Chlamydia trachomatis (CT) infection is the most common sexually transmitted infection (STI) and mostly on teenager and young adult female. Around 70% chlamydial infection are unsymptomatic, therefore routine examination are important on infected patient to prevent it from developing into pelvic inflammatory disease, infertility, ectopic pregnancy, perinatal infection and also cervical cancer. Syndromic approach is one of STI assesment, this procedure develop by World Health Organization (WHO) in algorithmic form to help health worker diagnose CT rapidly. Increasing number of polymorphonuclear (PMN) leucocyt is one of infection signs. Gram staining result from endocervical discharge with chlamydial endocervicitis, total PMN are >30/wide visual area. This clinical symptoms and PMN leucocyt count (Gram staining) can be use as visual indicator to diagnose CT infection (presumtive/working diagnose), so that treatment can be given as early as possible. This research been done to compare sensitivity and spesificity of syndromic approach and Gram staining (PMN leucocyt >30/wide visual area) with PCR examination as cultur replacement. Research aim are: 1. To have proportion of CT infection from PCR examination. 2. To compare sensitivity and spesivicity of syndromic approach and PMN leucocyt >30/wide visual area with PCR examination.
2
Subjects are female sex workers, with characteristic, subjective signs (genital discharge and postcoital bleeding) and objective symptoms (mucopurulent discharge and friability) being recorded, and also endocervical speciment for Gram staining and PCR Amplicor testing being taken to laboratory. Study results shows, subjects generally belong to 20-24 group of age and low education, with total 37 persons (67.27%). Most subjects are unmarried (63.64%). Mean age of first sexual intercourse are 17.671.62 years. Mean total guests in last one month are 31.1121.36 persons. Results of PCR Amplicor testing, shows 23 subjects (41.8%) are infected with CT. Friability are found in 13 subjects from 23 subjects with positive PCR result (56.5% sensitivity, 62.5% specivicity with 60% acuracy). Mucopurulent discharge are found in 18 out of 23 subjects with positive PCR result (78.3%sensitivity, 31.3% specivicity with 50.9% acuracy). This results shows that each symptom, individually, can not be use as diagnostic criteria. Result from combination of mucopurulent discharge and friability compared to PCR testing are 56.5% sensitivity and 62.5% specivicity with 60% acuracy, therefore as combination this clinical manifestation also can not be use as diagnostic criteria

ABSTRAK Infeksi Chlamydia trachomatis (CT) genital merupakan infeksi menular seksual (IMS) tersering yang dilaporkan dan terbanyak mengenai wanita remaja dan dewasa muda, sekitar 70% infeksi klamidia tidak memberi gejala, sehingga pemeriksaan rutin pasien terinfeksi penting untuk mencegah perkembangan menjadi penyakit radang panggul, infertilitas, kehamilan ektopik, infeksi perinatal, dan bahkan kanker serviks. Salah satu cara dalam penatalaksanaan IMS ialah pendekatan sindrom, cara ini dikembangkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam bentuk bagan alur atau algoritme untuk membantu petugas kesehatan dalam mendiagnosa CT secara cepat. Peningkatan jumlah leukosit PMN adalah salah satu tanda infeksi. Pada pewarnaan Gram dari duh tubuh endoserviks dengan endoservisitis klamidia didapatkan jumlah PMN > 30 /lapang pandang besar (LPB). Gejala klinis serta pemeriksaan PMN tersebut dapat dijadikan indikator visual untuk memprediksi adanya infeksi CT (diagnosis presumtif/tersangka/kerja), sehingga dapat segera ditatalaksana. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1. Menilai proporsi infeksi CT berdasarkan pemeriksaan PCR. 2. Menilai sensitivitas dan spesifisitas pendekatan sindrom dan jumlah PMN >30/LPB pada infeksi CT genital wanita dibandingkan dengan pemeriksaan PCR. Subyek penelitian adalah wanita pekerja seksual (WPS) yang direkam tentang karakteristik, gejala subyektif (keputihan dan perdarahan setelah koitus), dan gejala objektif (duh mukopurulen dan serviks mudah berdarah), serta pemeriksaan laboratorium berupa spesimen endoserviks untuk menghitung PMN Gram dan pemeriksaan Amplicor® PCR. Hasil penelitian menunjukkan subyek penelitian (SP) terbanyak adalah kelompok usia 20-24 tahun, berpendidikan rendah, sebanyak 37 orang (67,27%). Sebagian besar SP belum menikah (63,64%). Rerata umur melakukan hubungan seks untuk pertama kali adalah 17,67 + 1,62 tahun. Rerata jumlah tamu keseluruhan dalam satu bulan terakhir sebanyak 31,11 + 21,36 orang. Hasil pemeriksaan PCR Amplicor®, menunjukkan 23 orang (41,8%) SP terinfeksi CT. Serviks yang mudah berdarah terdapat pada 13 orang dengan hasil PCR positif di antara 23 orang SP (sensitivitas sebesar 56,5% dan spesifisitas sebesar 62,5% dengan akurasi sebesar 60%). Duh tubuh mukopurulen didapatkan pada 18 orang dari 23 orang SP dengan hasil PCR positif (sensitivitas 78,3% dan spesifisitas 31,3% dengan akurasi sebesar 50%). Bila serviks mudah berdarah dan duh mukopurulen secara bersama dihubungkan dengan hasil pemeriksaan PCR diperoleh hasil sensitivitas sebesar 56,5% dan spesifisitas sebesar 62,5% dengan akurasi 60%, sehingga sebagai gabungan kedua manifestasi klinis tersebut juga tidak dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis.

References



Full Text: Full text in Indonesian

Refbacks

  • There are currently no refbacks.